RSS
  • Seen Live - International Acts List

    11. Feb. 2013, 1:17

  • My Favourite Records 2011

    5. Jan. 2012, 11:26

  • Java Rockin' Land 2011 - Day 3

    30. Jul. 2011, 16:16

    Fri 22 Jul – Java Rockin'Land 2011


    Real Camp Ground

    Di awal tulisan ini, saya ingin menulis beberapa kritik tentang JRL tahun ini, yang saya ingat saja tentunya. Pertama, susunan jadwal di web yang tidak memberi banyak info tentang artis yang tampil. Hanya beberapa artis saja yang jika di-klik memberikan info cukup lengkap. Padahal, tentu saja info tentang artis-artis yang tidak terlalu dikenal atau malah belum dikenal sama sekali, lebih dibutuhkan dibanding nama-nama besar yang sebagian besar orang sudah mafhum. Ini membuat orang-orang lebih malas -jika tidak mencari info di tempat lain- mendatangi band-band bagus di panggung yang jauh dari keramaian. Kedua, ditiadakannya campground. Padahal, dengan semakin ramainya orang yang mendatangi JRL, tentu saja di antaranya banyak yang mengambil 3-day-pass dan ingin merasakan atmosfer hidup di venue (seperti Woodstock, Festival2 di Jepang, dll) harus bolak-balik rumah, atau, ya, ngegembel seperti kami.

    Hari ini saya memaksa untuk tidur, dan bersenang-senang sebelum menghabisi hari terakhir festival ini. Jadilah, saya dan Baloy, oh ya, si Bewok paginya pulang dengan hati yang kalut setelah HPnya digasak maling di Musholla. Hati-hatilah kalian yang ingin mengikuti jejak kami. Jadilah saya dan Baloy sepanjang pagi dan siang nongkrong-nongkrong di pantai, berjalan-jalan dengan peminjaman sepeda gratis, atau sekedar ngobrol-ngobrol dengan masyarakat sekitar. Pegawai McD, petugas kebersihan, penyewa tenda (kami juga dipersilakan istirahat siang di tendanya, gratis!), penjaga warung (dipersilakan ngecharge HP sampe full, bukan warung di kisah JRL Day 1), dan lain-lain disertai nasihat dan wejangan sebagai orang yang tidur di jalanan.


    Menuju Venue

    Hari ini juga untuk pertama kalinya saya mandi selama tinggal di Ancol, walaupun itu di toilet umum sekitar pantai yang dipenuhi orang. Sebelum kami bersiap kembali ke JRL, datanglah teman kami Cigarro yang semalaman suntuk terkatung-katung dari perjalanannya dari Palembang, ikut meramaikan pasukan hari ini. Dan ya, kami hanya bisa geleng-geleng kepala atas apa yang terjadi dari kemarin hingga pagi ini. Sesekali tersenyum getir, tapi kemudian, segera bergembira karena bagaimanapun juga, ini hari terakhir JRL tahun ini, yo ho!

    Sebentar, saya nyeduh sereal dulu. Kelaperan ey, nulis ini jam 3 pagi, mana gembok pager kosan pake diganti segala lagi.

    JRL Hari Terakhir


    Rajasinga


    Rajasinga yang tampil tepat pukul 15.30, mendapatkan tidak terlalu banyak penonton. Menurut Morrg, mereka baru saja tiba dari Bandung 15 menit yang lalu. Entah kenapa, tapi hari ini Rajasinga tampak tidak seperti biasanya, kurang greget. Meski bermain seperti biasa, tapi mereka terlihat kurang bersemangat, atau kecapekan, atau tidak terbiasa bermain sore, di tempat seperti ini, atau gabungan semuanya? Saya tidak tahu yang mana. Bahkan Baloy, yang baru tahu Rajasinga dua hari yang lalu pun, tampak kurang bersemangat setelah hingga akhir penampilan Rajasinga tidak membawakan "Kokang Batang" dan "RajagnaruK".



    Usai Rajasinga, saya balik badan dan mendapatkan ada Riki di belakang. Bukan Ricky Seringai, meski mereka dari kejauhan tampak mirip. Ini Riki teman kosan saya yang juga hadir di Hari Ketiga di JRL tahun lalu.

    Roxx


    Hari ini saya melewatkan Betrayer, padahal saya belum pernah menonton mereka. Tapi ya, males aja. Jadilah kami menuju TEBS Stage menyaksikan Roxx, sementara di panggung utama, Edane sedang bersiap. Ketika kami datang, tepat Jaya (Gitaris) sedang berorasi memarahi drummer mereka yang menurutnya banyak melakukan kesalahan, kurang power, padahal bayarannya sama. Hahaha. Roxx juga hari ini performanya tidak semantap ketika saya pertama menyaksikan mereka beberapa tahun lalu. Untunglah celetukan-celetukan dari Jaya cukup menghibur, termasuk saat menyindir Trison (Vokalis), yang juga mantan Vokalis Edane, ketika Edane memulai lagu pertama mereka.


    Edane


    Kamipun hanya melihat penampilan Edane sebentar saja. Melihat Roxx dan Edane bermain nyaris serentak, rasanya sore ini kami berada di era 90-an, era kami masih mencoba-coba mendengarkan koleksi kaset kakak-kakak, dan paman-paman kami. Ini belum termasuk jika dilihat dari line-up hari ini yang menghadirkan banyak band lawas dipadukan dengan beberapa band-band era 2000an atau bahkan 2010an.


    Sir Dandy


    Sebelum kami menyaksikan Roxx, kami sempat melihat Sir Dandy Harrington dan band memainkan beberapa lagu, padahal sedang sound check. Sir Dandy sendiri sebenarnya bisa saja disebut sebagai supergroup melihat para personilnya yang beranggotakan para personil dari band-band seperti Sore, L'Alphalpha, sampai Maliq & D'essentials. Hari itu, Sir Dandy tampil dengan performa terbaiknya. Melempar-lemparkan Buah Anggur ke penonton (semenjak lagu Anggur Merah), membagi-bagikan kondom gratis (Sekdrag), hingga menunjuk langsung ke Arian13 (Ayo Kita Kerja, tapi dengan kalimat berbeda dengan di rekaman), dan sebagainya. Termasuk improvisasi lirik, improvisasi lagu (More than a Word), dan orasi-orasinya yang membuat para penonton tergelak. Termasuk diantaranya beberapa kali mengeluhkan sound dari Edane yang terdengar sampai ke stage ini. Cigarro(teman saya) sampai menyebutkan hal-hal seperti, entah bagaimana band seperti ini bisa diundang ke JRL(sebelum dia tahu siapa saja personil band-nya), atau entah bagaimana setiap Sir Dandy berorasi, penonton tampak khusyuk mendengarkan. Penampilan Sir Dandy sudah cukup untuk membuat para penonton memancarkan aura positif dan mendapatkan mood yang bagus sebelum bersenang-senang hinga tengah malam nanti. Sikat John!



    /rif - Kensington - Stepforward

    Kami datang ke Dome Stage untuk melihat /rif yang hanya tinggal memainkan 2-3 lagu. Di lagu terakhirnya, "Satu", CMIIW, mereka menampilkan bendera merah putih besar sepanjang panggung yang bertuliskan /rif. Berarti dalam dua hari terakhir ada dua band yang membawa Bendera Indonesia dan membawakan lagu bertema persatuan dan nasionalisme di Dome Stage. Sementara diluar, Kensington tampil di Simpati Stage. Mereka adalah band luar kedua, yang pernah saya saksikan dua kali penampilannya, ya iyalah ya. Malam itu mereka tampil lebih seru dan atraktif, dan sempat merekam aksi crowd yang katanya, akan dimasukkan ke dalam video klip terbaru mereka.


    Kensington

    Di saat yang bersamaan, Stepforward sedang beraksi di Radical Stage. Stepforward adalah band hardcore lawas yang melakukan reuninya, semenjak, semenjak berapa tahun ya, di JRL kali ini. Saya bahkan baru mendengarkan tiga lagunya yang dishare gratis via Twitter oleh Ricky (Gitaris), sebelum festival ini diselenggarakan. Penampilan mereka malam itu menurut saya, garang. Kerenlah pokoknya. Sayang hanya sempat menyaksikan sebentar penampilan mereka. Dan Ricky tampil dengan mengenakan kaos lengan pendek (penting).


    Stepforward

    Good Charlotte

    Saya yang saat ini, sebenarnya tidak tertarik untuk menyaksikan Good Charlotte. Jadi saya mengumpulkan kenangan saya masa SMP untuk menemukan alasan yang tepat untuk menyaksikan band ini. Salah satunya, I'll watch another Benji. Sebelum mereka tampil, sempat ada tiga vokalis, Andy /rif, Vokalis Edane, dan satu lagi saya lupa, naik ke panggung dan memimpin penonton untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Persentasenya mungkin 50-50 antara penonton yang ikut bernyanyi dan yang tidak ikutan. Saya termasuk yang kedua. Entahlah, kali ini saya tidak mau bersusah-susah menemukan alasan mengapa saya harus ikut bernyanyi.



    Selanjutnya, Good Charlotte segera naik ke panggung. Saya lupa ini penampilan mereka yang keberapa di Indonesia, yang ketiga mungkin. Termasuk jika penampilan Madden Twins akustikan beberapa tahun lalu dihitung. Saya tidak melihat banyak perubahan pada penampilan Joel dan Benji. Billy Martin dan Paul Thomas, kini berambut pendek (saya baru saja mengecek di wiki, nama-nama gitaris dan bassis nya, siapa tahu sudah ganti personil). Mereka tampil dengan membawakan cukup banyak lagu baru, yang saya tidak tahu. Selain itu, Madden Twins juga cukup banyak berorasi yang intinya nyaris selalu sama, kecintaan mereka terhadap Indonesia. Sebut saja seperti, Indonesia adalah rumah kedua bagi mereka, dan mereka lebih cinta Indonesia dibanding US (yang ini, CMIIW). Terdengar seperti gombalan belaka, tapi menyaksikan kiprah dan omongan mereka selama ini, bahkan gombalan ini terdengar jauh lebih baik dibanding gombalan Jared Leto dua hari sebelumnya x).



    Salah satu bukti mereka tidak sekedar omong kosong, Benji menepati janji untuk mengkover lagu SM*SH - I Heart You !! Cinta cenat-cenat gitu, silakan cari di Youtube. Sembari didepannya, Joel melakukan dance-dance seperti yang dilakukan personil SM*SH di video klip lagu tersebut! Saya yang tadinya hanya duduk-duduk pun segera bangkit untuk melihat hal langka ini, dan tentu saja, langsung tertawa terbahak-bahak sampai mata saya berair melihat aksi tersebut. Go Kill!



    Popularitas mereka di Indonesia mungkin sudah tidak seperti beberapa tahun yang lalu, tapi upaya mereka untuk mempertahankannya patut diberi acungan jempol. Toh, masih terlihat banyak remaja putri di deretan depan yang berteriak-teriak histeris. Saya juga melihat banyak para penonton Helloween dan para metalhead angkatan lawas (kelihatan dari kaosnya), ikut menonton Good Charlotte. Sepertinya memang sedang tidak ada kerjaan, atau sekedar nonton, karena untuk mengambil barisan terdepan untuk Helloween masih cukup banyak waktu. Di sela-sela menonton Good Charlotte juga saya tiga kali bolak-balik ke Dome Stage untuk mengecek apakah X-Three (projek mengerikan yang melibatkan personil-personil dari Burgerkill, Forgotten, Seringai dan Beside) sudah tampil atau belum. Dan kesemuanya berakhir nihil, setiap saya kesana masih terdapat tulisan "sound check". Beruntung teman saya, Baloy, sempat merekam penampilan mereka, bertepatan dengan I Heart You dibawakan. Dia yang kurang beruntung sepertinya.

    20.30 - 21.30


    Cupumanik

    Ini saatnya makan malam. Melihat kondisi kami, dan dua tulisan saya sebelumnya, bisa ditebak apa menu makan malam kami kali ini. Terlebih dahulu kami menyempatkan untuk menyaksikan Cupumanik sekitar 1-2 lagu. Lumayanlah, satu-satunya lagu mereka yang saya tahu, Grunge Harga Mati, sempat saya saksikan. Che (Vokalis) sendiri mungkin adalah satu-satunya vokalis dari dua band yang berbeda yang bermain di stage yang sama pada JRL 2011. Sehabisnya kami juga menonton Frente! hanya untuk beberapa saat. Para penggemar Frente! tampaknya tidak terlalu peduli meski hujan sempat mengguyur lokasi. Kami menyantap makan malam sambil mendengarkan suara The Trees & The Wild dari depan dan Frente! dari kanan. The Trees & The Wild tampil di panggung yang sama dengan tahun lalu. Bedanya kali ini sound mereka terdengar lebih jelas, karena tentu saja kali ini tidak tampil serentak dengan Stryper lagi.

    Helloween - Speedkill

    Saya tidak terlalu mendengarkan lagu-lagu Helloween, dan juga genre Power Metal secara umum. Saya hanya cukup ingat "If I Knew" (Paman saya sering menyanyikannya), "Forever and One" (Dia sering menyetelnya), dan "Power" (Mereka pernah membawakannya). Begitu juga dengan Baloy yang hanya tahu dua lagu pertama, atau Cigarro yang hanya tahu lagu terakhir(Kakaknya bisa memainkan lagu itu). Dan setelah saya melihat kabar-kabar tentang setlist, habis sudah kesempatan kami untuk bersing-along. Sorenya juga kami sempat bertemu para kru panggung yang datang lebih awal, katanya mereka akan mempersiapkan set panggung Helloween yang akan beda sendiri. Entah, benar atau tidak setlist tersebut. Yang jelas, kami tiba di aula saat mereka mulai memainkan "Are You Metal?" yang segera saja membangkitkan energi untuk membuat moshpit kecil-kecilan beranggotakan dua orang, saya dan Baloy, meskipun menonton dari kejauhan.


    Helloween

    Selanjutnya saya tidak begitu ingat lagu apa saja, mereka terus menggempur dengan kekuatan yang mengerikan dan megah di saat yang bersamaan. Tiba-tiba hujan turun untuk pertama kalinya di JRL tahun ini, dan membuat cukup banyak penonton menyingkir, mencari tempat untuk berteduh, tapi tentu saja masih cukup banyak yang bertahan di bawah hujan. Om Andi Deris bahkan mengomentari turunnya hujan dan berkata, "Fuck It!". Kami tidak menepi, tapi menjauh, untuk melihat penampilan Speedkill di Prambors Stage. Ini adalah panggung yang terletak dekat gerbang masuk, dan sebelumnya tidak pernah saya datangi untuk menyaksikan band-band yang tampil disini. Sambil menonton Speedkill, saya lihat banyak penonton yang berjalan melintasi panggung kecil ini untuk keluar dari venue, pulang mungkin, besok Senin. Speedkill malam itu, seperti yang dijanjikan Unbound di Twitternya, tampil bergaya grunge dengan masing-masing memakai flanel. Unbound sendiri mengaku kalau malam itu dia kerasukan Kurt Cobain yang merupakan kesalahan dari pawang hujan. Selain bergaya grunge, Speedkill juga mengkover "Smells Like Teen Spirit", dan mengakhiri penampilan mereka dengan "Parade Kanibal Utopis".


    Speedkill

    Disini, saya dan Riki kembali menyaksikan Helloween yang saat itu membawakan "I Want Out" dengan gimmick-gimmick seru dari Deris, seperti menyuruh penonton mengucapkan "Out!" sebanyak 7 kali. Menjadikan drummer mereka (yang sebelumnya sempat melakukan solo drum) sebagai lelucon, dan berorasi jika dalam skala 1 sampai 5, crowd Indonesia pantas mendapat nilai 5, dan diamini oleh sang drummer setelah dari tadi hanya mengacungkan jari tengahnya kepada Deris. Para sesepuh ini berhasil menampilkan aksi yang menghibur, sebelum ditutup oleh pertanyaan dari Om Deris, "Would you tell them, 'I've been at Helloween Concert'?" yang dijawab dengan sorak sorai crowd.


    aoxl & cigarro_elocnos

    Morfem - Happy Mondays - Gugun Blues Shelter

    Saat itu, saya dan Riki sudah berpisah dengan Baloy dan Cigarro yang sudah menghilang semenjak kami menonton Speedkill. Kami saling tidak bisa menghubungi, dan baru diketahui di akhir acara, sinyal HP saya yang terganggu, dan mereka sendiri nongkrong di WC untuk men-charge handycam yang low-batt. Saya menyempatkan untuk melihat penampilan Morfem yang tinggal beberapa menit. Jimi (Vokalis) sempat menyebutkan bahwa sebentar lagi Happy Mondays, dan mereka semakin deg-degan. Saya jadi mengerti perasaan para artis yang waktunya nyaris bentrok dengan penampilan band-band luar yang menjadi headliner. Antara mengkhawatirkan para penonton yang kapan saja bisa beralih dari depan panggung dan perasaan ingin ikut menonton, apalagi jika yang tampil adalah idola atau influence mereka. Hebatnya, Morfem yang menyisakan dua lagu lagi, tetap tenang. Bahkan di lagu terakhir, Gadis Suku Pedalaman, Jimi melompat dari panggung untuk menodong penonton secara acak untuk ikut menyanyikan reff lagu tersebut.


    Gugun Blues Shelter

    Sehabis Morfem menyelesaikan pertunjukan, saya bertemu dengan Riki yang baru datang dari WC dan mendapati penampilan terakhir di Propaganda Stage sudah usai. Kami melanjutkan menonton Gugun Blues Shelter untuk tiga lagu, cukup terhibur dengan penampilan mereka yang (konon) selalu keren. Kami melanjutkan untuk menyaksikan Happy Mondays, saya tidak begitu menyimak musik mereka ini. Selain saya yang memang tidak ngerti, putus kontak dengan dua teman saya yang tadi juga cukup membuat gusar. Saya jadi tidak bisa dengan tenang menikmati penampilan band yang sudah hadir semenjak 80an tersebut. Oh, saya ingat sesuatu, rapper (entah personil tetap atau bukan) ini memakai Kaos Drop Dead, dan seorang teman sempat men-twit keterkejutannya, sekaligus melanjutan dengan kalimat,"Setelah pulang sampai di rumah masing2, para anak britpop militan yg di front row Happy Mondays akan mengorder kaos2 Drop Dead. Trust Me!"

    Saya juga sempat melihat seseorang memakai kaos putih bertuliskan "Band Logo Tshirt" (Kalo gak salah). Entah siapa dia atau apa motifnya memakai kaos itu, saya rasa itu terlihat kurang menghargai, di antara banyaknya para metalhead yang memakai Kaos-kaos Helloween, Led Zeppelin, Iron Maiden, Loudness, dll. saat itu.

    Kami berempat (akhirnya bertemu dengan dua orang itu, sinyal HP saya membaik) akhirnya malam itu kembali ke Musholla dan menginap disana ditengah terpaan hujan yang cukup deras. Setelah tadinya berniat untuk mencari tempat lain, atau sekedar jalan-jalan sampai pagi. Terdengar seperti pengangguran sekali ya. Saya dan Baloy yang telah hadir semenjak hari pertama, sepakat bahwa hari ketiga tidak seseru dua hari sebelumnya. Selain memang tidak ada band yang benar-benar ingin kami saksikan, faktor kurang tidur, dan banyaknya penampil dua hari sebelumnya yang tampil luar biasa, mungkin bisa dijadikan faktor-faktor pendukung anggapan tersebut. Tidak terlalu berpengaruh lah ya, yang penting sejauh ini, ini adalah satu dari tiga hari paling berkesan dan bersejarah dalam hidup saya. Semoga kuil kapitalis bernama JRL ini akan tetap dan lebih menarik tahun-tahun kedepannya hingga mampu membuat kami terpanggil untuk menghadirinya lagi. Baik sebagai penonton, atau kedepannya lagi, sebagai penampil, tentu saja.

    Top 5 JRL Day 3
    Helloween
    Good Charlotte
    Sir Dandy
    Step Forward
    Satu lagi, bingung, keseringan pindah2 stage.




    .

    Kredit Foto :
    -Kamera Cigarro
    -Ponsel Baloy
    -http://www.indonesia.travel
    -Fanpage Facebook Band
    CTOU

    Link Blog saya : http://benjimozart.multiply.com/journal/item/40
    Untuk mengecek sumber-sumber foto tersebut, silakan meng-klik pada foto, pada tulisan di-blog.
    Segan, sampai jumpa!
  • Java Rockin' Land 2011 - Day 2

    30. Jul. 2011, 15:35

    Fri 22 Jul – Java Rockin'Land 2011



    30 Second to Mars menutup JRL hari pertama hingga jam 2 pagi, kami baru keluar dan sampai di tempat menginap jam 3 pagi. Tempat kami menginap (dikatakan bermalam rasanya kurang pas), ini baru kami temukan saat itu juga. Di sebuah Musholla di sebelah McD yang buka 24 jam setiap weekend. Musholla yang colokan listriknya mati. Tepat di sebelahnya ada warung yang buka dan menyewakan jasa charge hp seharga Rp10.000/jam. Terlalu kelewatan untuk dibilang kebetulan.

    Berhubung HP saya sudah mati total, karena kurang bijak dalam memaksa pencarian sinyal untuk twitteran, saya harus meminjam HP teman saya si Bewok untuk mencatat hal-hal yang saya ingat tentang show 30stm barusan. Saya memilih mencatatnya saat itu juga(di twitter), karena masih dalam euforia, akan terasa berbeda jika saya baru mengingat-ingatnya hari ini.


    Walopun ngegembel, sarapan teteup McD bareng anak2 Fixie

    Karena kesusahan dalam berjibaku menghadapi koloni nyamuk ganas Ancol, saya menyerah dan baru tertidur ketika matahari terbit. Setelah sarapan Bubur Ayam McD seharga goceng saja (Benar-benar bubur dan ayam saja), saya terlelap hanya untuk beberapa jam sementara Bewok pulang untuk membereskan peralatan kerjanya, dan Baloy berkeliling Ancol.

    Tinggal bersama Baloy, yang tampak masih cukup waras ditengah ketidakwarasannya ini membuat kami cukup bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Saya ingat, saya sudah cukup lama tidak berkenalan dengan orang asing. Ini yang membuat orang-orang ini cukup cocok menemani saya di event-event seperti ini. Dengan makhluk-makhluk seperti Baloy dan Cigarro (dia harusnya datang hari ini!). Membuat saya merasa kembali Menjadi Manusia, ditengah hidup saya yang Apatis Ria.

    Sebelum saya bercerita lebih lanjut mengenai JRL hari kedua, saya akan sedikit bercerita tentang Cigarro ini. Dia harusnya datang hari ini, karena tiket yang sudah kami beli untuknya dimulai dari hari kedua. Tepat sehari setelah dia menyelesaikan gelar sarjananya. Dan dia datang dari Palembang. Paling lambat dia akan tiba dua atau satu jam sebelum The Cranberries tampil. Apa daya dengan perjalanannya yang melalui Lintas Sumatera, membuat orang ini tidak bisa melawan takdir. Dia baru bisa mendatangi kami keesokan harinya. Rasanya seperti musibah, kami tidak bisa mendapatkan dokumentasi yang lebih baik (Cigarro membawa kamera DSLR dan handycam) dan dia sendiri tidak bisa menyaksikan The Cranberries. Sayang sekali, padahal menurutnya, dia sudah menghapal lagu-lagu Kelelawar Malam.


    Abang-abang Gembok Cinta

    Selain orang-orang setempat, dan para volunteer, juga kru panggung JRL, kami juga mendapat teman yang juga memiliki tiket 3-day-pass, yang keduanya juga merupakan perantauan. Satu dari Makassar dan lainnya dari Malang. Singkatnya, satu hari hidup seperti ini saja terasa begitu "hidup".

    JRL 2011 - Day 2

    Kami sepakat memperkirakan, hari ini akan lebih seru melihat nama-nama yang menghuni deretan line-up. Melihat para band dari Demajors yang mengisi Propaganda Stage saja sudah cukup untuk memaksa kami membuat perhitungan lebih matang menghadapi banyak bentrokan jadwal.

    Leonardo


    Tiba pada waktu seperti biasa, saya awalnya berencana menonton Amazing in Bed. Tapi begitu kami datang, mereka sedang tampil bersama seorang rapper, kami memutuskan untuk segera ke Propaganda Stage. Saya sejujurnya tidak tahu lagu-lagu Leonardo Ringo, hanya tahu yang "The Sun" saja. Makanya, saya juga bingung entah bagaimana dia bisa meng-add saya di sebuah jejaring sosial. Leonardo dan band tampil baik sore itu, di tepi pantai, ahh. Sayang juga saya tidak sempat melihat The Sun dibawakan karena kami memutuskan untuk mendatangi panggung-panggung lainnya.

    Power Slaves - Konspirasi - Ballerina

    Kami awalnya menonton Power Slaves karena Konspirasi tak kunjung mulai. Melihat penampilan para rocker gaek ini kami hanya bengong-bengong. Antara saya yang tidak ngerti lagunya, Bewok yang tidak mengerti kenapa gitarisnya pakai topi cowboy, dan Baloy yang mungkin tidak mengerti keduanya. Untunglah Konspirasi segera memulai penampilannya. Akhirnya saya bisa melihat mereka, setelah terlewat tahun lalu. Di deretan penonton ada Arie dan Doddy Hamson, yang dijadikan sasaran untuk foto bareng oleh Baloy dan Bewok. Itupun mereka baru tahu, setelah saya bilang kalau dua orang itu dari Komunal. Setelah puas menyaksikan Konspirasi dan bengong melihat Power Slaves, saya baru sadar Ballerina juga sedang tampil. Ah, kesempatan jarang! Sayang ketika kami datang, Ballerina hanya tinggal memainkan satu lagu lagi. Ughhh!

    Di sela-sela penampilan di atas juga kami melihat bule blonde topless. Uhh, tapi dia laki ding. Setelah rada menjauh dan kehilangan jejaknya, kami baru sadar kalau dia Steven Ansell, sekaligus menyadari bahwa kesempatan kami berfoto bersama dia, bahkan mungkin dengan Neng Laura-Mary, tampaknya telah buyar.


    Sarasvatī


    Membaca kabar-kabar via twitternya, bahwa dia sedang sakit, tetap saja membuat kami tidak bisa membayangkan Sarasvati tampil tanpa Risa. Ketika kami datangpun, entah lagu kedua/ketiga baru Risa muncul dan bernyanyi meski suaranya masih serak. Berhubung saya dan Baloy sudah sering menontonnya kami segera pindah stage karena Kelelawar Malam akan segera tampil. Menyisakan Bewok yang menyaksikan sampai habis performa Sarasvati dan menceritakan ada penampilan tambahan dari @infojurig dan emaknya Peter.

    Kelelawar Malam


    Kelelawar Malam, yang meski tampil hari apapun tetap menganggap itu adalah Malam Jumat Kliwon, kali itu tampil dengan sound terbaik selama saya menyaksikan mereka. JRL memang
    festival besar, selain menyaksikan band-band besar di panggung besar, toh kita juga perlu berpesta kan? Jadilah saya dan Baloy ikut berheadbang ria dan menari-nari di barisan depan bersama seorang Budak Kelelawar yang fanatik. Kali itu Doddy Hamson diundang ke panggung untuk membawakan Ratu Kegelapan, sama seperti penampilan terakhir mereka di Launching RajagnaruK. Meski di dua JRL terakhir (saya tidak tahu yang pertama), Komunal tidak tampil, tapi Doddy selalu hadir menjadi vokalis tamu untuk band lain. Aksi pocong body surfing juga tampaknya mengundang kegembiraan penonton yang belum pernah menyaksikan hal ini sebelumnya. Sialnya, body surfing kali ini tidak benar-benar "surfing". Saya bersama dua-tiga orang lain hanya mengangkat pocong ini dan dibawa berjalan-jalan, bukannya dialirkan menuju penonton lain yang hanya mersepon dengan tertawa-tawa, rada konyol sih. Selain tiga pocong, ada satu lagi pasukan mereka, dari wujudnya tampak seperti suster bunting.




    Puas bersenang-senang bersama Kelelawar Malam, kami segera menuju panggung utama yang dibuka tirainya oleh God Bless. Band veteran ini bahkan sempat menghadirkan barong Bali di panggung sambil tetap dikawal oleh raungan distorsi Ian Antono. Di sisa penampilannya, hanya sekitar 1-2 lagu yang kami tahu dan sing-along friendly, dan mengakhiri aksi mereka yang megah dengan Semut Hitam.

    God Bless


    19.00 - 20.15

    Itu bukan nama band, benar, itu adalah kurun waktu. Dalam kurun waktu sekitar 75 menit tersebut, kurang lebih ada 6 band yang kami saksikan. Kacau! Okelah X-Shibuya, kami cuma lewat di depan panggungnya. Tapi karena cukup sering lewat jadi bisa disebut nonton juga lah *maksa. Pertama, Franco yang tampil di stage paling santai dan intim menurut saya, Segarra Stage, adalah Band Rock Filipina yang tidak berhasil membuat kami bertahan lebih lama menyaksikannya, selain karena padatnya penonton di sekitar stage kecil tersebut.


    Franco

    Berikutnya, Young the Giant. Band yang sempat dipuji oleh Morrissey ini saya bahkan lupa yang mana penampilannya. Nonton 1-2 lagu, kami beralih ke panggung The Milo untuk melihat orang-orang bergalau ria di tepi pantai. Lagi-lagi 1-2 lagu, kami beralih ke TEBS Stage. Disini Jasad sedang menunjukkan betapa berbahayanya mereka. Bahkan Man, sang vokalis, sempat mengucapkan terima kasih kepada para penonton yang bertahan menyaksikan mereka, dan memuji telinga mereka yang kuat. Saya sendiri sebenarnya masih betah melihat Jasad, tapi tampaknya dua kawan yang lain telinganya sudah tidak kuat dan mengajak untuk beralih ke dalam Dome.

    Di dalam Dome, Kensington, band asal Belanda tampil cukup seru dan atraktif. Mereka lumayan mengingatkan saya akan Di-rect yang tampil memukau tahun lalu. Ini adalah band yang baru merilis satu album, dan saya suka fakta tersebut. Band-band seperti ini biasanya akan tampil total dan melakukan banyak cara untuk merebut hati penonton. "Kalian memang luar biasa!" adalah salah satu kalimat dalam Bahasa Indonesia andalan mereka untuk para crowd. Dan itu memang ampuh.

    Aftercoma

    Sehabis marathon 6 band tersebut, kami memutuskan untuk membeli nasi goreng (ya, seperti kemarin). Sebelumnya, kami menonton Aftercoma terlebih dahulu. Mereka tampil cukup bagus, meski rasanya cukup berbeda dibanding sewaktu saya pertama menonton mereka dulu. Aftercoma (mungkin) adalah satu-satunya band yang mempu menghadirkan moshpit. Ada banyak band-band lain yang juga pantas membuat moshpit, tapi seperti yang kita tahu di JRL, jika tidak dititahkan oleh bandnya sendiri, tidak akan ada moshpit. Saya sempat berharap mereka membawakan Raga Terbakar seperti aslinya, featuring Ipang. Sayang, meski BIP juga tampil malam itu, Ipang tampaknya tidak bisa hadir di panggung Aftercoma kali ini.

    Ed Kowalczyk


    Ed Kowalczyk, adalah vokalis band LIVE yang tampil solo (dengan band pendukung), yang juga sering membawakan materi-materi dari Live. Agak bingung eh? Saya juga. Tidak banyak yang saya tahu tentang dia(dan mereka). Dari hari pertama JRL, jika berpapasan dengan seorang bule botak, saya berpikir itu adalah Ed. Selanjutnya, kami menonton Ed dan band-nya dari kejauhan sambil makan nasi goreng. Saya cuma ingat ada satu lagu yang membuat saya tertarik, sayang tidak tahu judulnya. Yang jelas, baru-baru ini saya melihat dia memposting foto di facebook. Foto mereka berpose dengan latar belakang para penonton yang membuat mereka terlihat begitu dinikmati performanya.

    Gigantor


    Kami masih melanjutkan marathon di malam itu. Mengecek sebentar penampilan G-Pluck, band cover The Beatles, dan memutuskan untuk tidak menonton lebih lanjut setelah melihat berjubelnya crowd di Segarra Stage. Selain ramai orang yang bersing-along menyaksikan mereka, di sebelahnya juga ramai orang-orang menonton via televisi, Pertandingan Sepakbola antara Turkmenistan vs Indonesia. Di Propaganda Stage, kami mengunjungi Gigantor yang sedang beraksi. Sambutan crowd kepada mereka cukup hangat tampaknya meski malam mulai dingin karena gerimis, kalau tidak salah. Selanjutnya entah ada angin yang mendorong dari mana, kami menuju Dome Stage untuk melihat penampilan Cokelat. Dan ketika sudah menyaksikan mereka, kami baru sadar(ingat) kalau vokalisnya sudah diganti. Tidak banyak yang saya ingat, selain karakter suara vokalisnya yang rada serak, dan ada aksi kibar-kibar bendera saat lagu "Bendera" dibawakan.

    Fall


    Sebelum memutuskan untuk menyaksikan Fall, kami sempat melewati panggung dimana Master Wu dan Neon Trees. Master Wu, saya hanya pernah dengar namanya saja, dan kami hanya ingin duduk-duduk saat itu, jadi, skip. Neon Trees sama saja, saya (atau kamu juga?) hanya tahu lagunya yang "Animal". Jadilah kami menuju JUMP Stage untuk menyaksikan Fall, band post-hardcore senior. Mereka memainkan musik post-hc era-era awal sepertinya, karena tidak saya temukan yang seperti ini pada band-band masa kini yang dilabeli post-hc. Saya ditipu media? Entahlah. Saat sedang khusyuk menyaksikan Fall, Baloy dan Bewok yang tidak cukup beristirahat, terlelap sambil duduk di depan panggung. Ketika usai penampilan Fall, saya yang tidur lebih banyak paginya, membangunkan mereka untuk menuju Propaganda Stage.

    Angsa Dan Serigala


    Di Propaganda Stage, Angsa dan Serigala sedang bermain di tepi laut. Jumlah penonton yang sudah sedikit, menjadi semakin sedikit karena tidak lama lagi The Cranberries akan segera menggetarkan Ancol. Kami bertahan untuk 3 lagu, karena Baloy masih merekam penampilan mereka, mungkin faktor karena salah satu personilnya adalah teman kampusnya. Penampilan mereka sendiri tampaknya tidak terlalu lepas, jika dibandingkan pertama kali saya menyaksikan mereka.


    Sebentar, saya tarik nafas dulu pelan-pelan. Meminum sedikit kopi hitam racikan saya yang belum pernah pas rasanya. Karena berikut ini adalah salah satu pertunjukan terbaik yang pernah saya lihat.

    The Cranberries


    Kami tiba di aula utama ketika The Cranberries sedang membawakan "Analyse". Penonton sudah terisi sekitar 3/4, dan kami terlalu takut untuk mengambil resiko mencari jalan lain untuk melihat lebih dekat. Pikiran saya selalu sama, biarlah orang-orang yang lebih hafal lagu-lagu mereka untuk berada di posisi lebih depan. Dan sekarang rasanya sedikit menyesal, uhh. Tapi tidak apa-apa, di luar sana mungkin ada lebih banyak orang yang tidak bisa menonton band ini. Saya beruntung.

    Lokasi kami menonton tepat ditengah, disebelah rombongan metalhead yang asyik bersing-along, salah satunya Eben Burgerkill. Awalnya saya tidak memasang ekspektasi apapun terhadap penampilan The Cranberries, hanya sedikit mengantisipasi dengan menyetel ulang lagu-lagu mereka, dan menghapal beberapa potongan lirik. Kenyataannya apa? Bukan hanya karena saya menyaksikan pemilik lagunya tampil secara langsung (saya sudah bosan saking seringnya band-band membawakan lagu Zombie di festival band daerah saya dulu), tapi aksi panggung Tante Dolores juga juwara! Juwara, pake w!



    Segala macam gesture, katakanlah seperti dance-dance mendadak, atau bahkan menyiram rambutnya sendiri dengan air, mengibaskannya, dan segala macam lainnya, tidak sesuai dengan perkiraan saya tentang Dolores yang sesungguhnya, tapi, jauh lebih keren! Meski kostum yang dia kenakan akan tampak seperti penyanyi diskotik dangdut jika dikenakan orang yang salah, toh sepertinya tidak ada yang ambil pusing. Dengan aksi panggung seperti itu, Dolores adalah seorang tante yang sekeren-kerennya tante. Oke, penampilan mereka juga tampak lebih seperti Dolores dan band, tapi, sekali lagi, we didn't give a damn! x)



    Saya bersing-along penuh kegembiraan di setiap lagu yang saya hafal, dan untunglah semuanya dibawakan, dari total 18 lagu yang mereka bawakan malam itu. Gempa lokal sendiri baru terjadi di lagu ke-14, Salvation. Dan berdasarkan perkiraan kasar saya, guncangannya lebih keras dibanding 30stm tengah malam tadi! Kemudian berakhir ketika Zombie dibawakan selang satu lagu dari Salvation, dan para personil The Cranberries menghilang ke balik panggung.

    Mereka menghilang agak lama, dan lampu panggung masih tetap menyala. Ayolah, kita tahu ini encore, tapi ini cukup lama untuk muncul kembali. Baguslah, tidak lama kemudian, ketika adrenalin belum turun, mereka sudah kembali ke panggung. Sekaligus menjawab kenapa mereka menghilang cukup lama, Tante Dolores sudah mengganti kostumnya menjadi sebuah dress panjang hitam. Gempa lokal pun aktif kembali ketika Promises dan Dreams dibawakan, sebelum mereka menghilang lagi ke balik panggung. Kali ini untuk selama-lamanya, anjiss lebay.



    Terima Kasih The Cranberries. Jika malam sebelumnya saya bahagia akibat begitu banyak orang berbahagia, malam ini jelas saya bahagia untuk saya sendiri. Dan beberapa menit setelahnya, saya segera merindukan mereka.



    00.15 sampai akhir acara

    Kami hanya sempat melihat sebentar penampilan Power Metal. Katanya metalhead? Entahlah, saya memang kurang suka menyaksikan band-band lama dan tentu lebih memilih jika ada band baru yang lebih menarik hati di stage lain. Dan hey, sebutan metalhead itu juga teman saya yang menyematkan! Kali ini saya akan menyaksikan Neng Laura-Mary lebih dekat dibanding sebelumnya, itu target saya ketika hari telah berubah menjadi Minggu. Blood Red Shoes adalah band luar pertama yang saya saksikan dua kali. Kali ini Laura tampil dengan pakaian lebih terbuka jika dibandingkan hari sebelumnya. Tapi jelas, dirinya dengan Kaos Led Zep kegedean yang dipakainya kemarin itu, tidak terkalahkan! Saya jadi membayangkan kalau dia tampil dengan kostumnya yang kemarin, saya mungkin akan rela dipecut. Tapi kali ini dia tidak cukup bersemangat seperti kemarin. Dari gosip yang beredar -yang saya baca sehabis acara- moodnya tidak terlalu baik akibat crowd yang kurang oke. Wajarlah ya, tampil sehabis The Cranberries gitu lho. Yang saya lihat sih, masih cukup banyak mas-mas di barisan depan yang ikut bernyanyi atau sekedar berteriak "Laura, Lauraa!" atau "I love you, Laura!". Saya rasanya ingin ikutan teriak, "Marry me, Laura! Don't forget to wear your Led Zep's shirt in our marriage ceremony!" Tapi rasanya terlalu panjang, dan saya belum memikirkan gimana akibatnya kalau-kalau dia menoleh dan beneran naksir kepada saya.



    Di sela-sela penampilan Blood Red Shoes, saya dan Baloy menyempatkan untuk ke Propaganda Stage. Uhh, jam segini rasanya jauh ya. Sempat lewat JUMP Stage dimana Pure Saturday tampil dan penonton membludak, Bewok sudah disini saat The Cranberries belum memulai encore. Di Propaganda, adalah giliran Burgerkill. Saya menyempatkan kesana, karena belum pernah melihat Burgerkill membawakan lagu-lagu barunya. Setelah melihat mereka membawakan "My Worst Enemy", saya segera kembali ke TEBS Stage. Entah kenapa, tapi sependengaran saya, sound Burgerkill kurang asik saat itu. Dan tentu saja, saya tidak ingin kehilangan lebih banyak kesempatan melihat penampilan Neng Laura.



    Usai penampilan Blood Red Shoes, saya tidak memutuskan untuk mengejar mereka. Toh, saya berpisah tadi dengan Baloy, dan saya tidak membawa kamera. Menunggu di depan panggung untuk meminta setlist pun sepertinya percuma, mereka tidak memakai kertas untuk menulis setlist sepertinya, ah. Pikiran saya pun segera terputar ke Cigarro yang entah sedang di jalanan mana saat ini, perjalanannya dari Merak ke Jakarta sepertinya kurang lancar. Dia telah melewatkan hari yang hebat ini, entah dimana. Kamipun tidak berkesempatan mendapatkan dokumentasi yang lebih baik. Tidak apalah, kalau dia hadir maka mungkin hari ini akan menjadi terlalu sempurna. Hari ini adalah JRL terhebat yang pernah saya datangi, karena di hari ketiga saya berencana untuk lebih santai, tidak ada yang benar-benar ingin disaksikan sebenarnya.

    Kamipun berjalan keluar venue sambil sesekali bercerita betapa kerennya The Cranberries, atau keringat pertama malam itu yang kami cucurkan di depan Kelelawar Malam, tidak lupa mengenang beranjaknya Blood Red Shoes dari panggung. Kami terus berjalan, hingga tiba di Musholla yang sama dengan kemarin, tempat kami beristirahat untuk menyambut hari terakhir JRL tahun ini. Hey para nyamuk, kami kali ini membawa Lotion Anti-kalian, yang telah diorder Bewok dari temannya. Defense!

    Top 5 JRL Day 2
    The Cranberries
    Kelelawar Malam
    Sisanya bingung ey

    Kredit Foto :
    -Ponsel Baloy
    -Fanpage Facebook Masing-masing Band.
    -www.Indonesia.travel
    CTOU

    Link Blog saya : http://benjimozart.multiply.com/journal/item/39
    Untuk mengecek sumber-sumber foto tersebut, silakan meng-klik pada foto, pada tulisan di-blog.
    Cheers, Segan!
  • Java Rockin' Land 2011 - Day 1

    30. Jul. 2011, 14:45

    Fri 22 Jul – Java Rockin'Land 2011

    Jauh-jauh hari sebelum tiket resmi JRL tahun ini dijual, saya sudah mengantisipasi dengan men-summon beberapa teman untuk ikut serta, menghadiri tiga hari JRL. Tidak ada misi khusus, selain bersenang-senang di pertengahan tahun, tidak terlalu peduli siapa saja yang akan tampil. Saya sendiri awalnya rada bingung mau nulis apa gitu tentang JRL. Karena mengulas tentang festival, yang satu harinya saja bisa berjalan 8 hingga 10 jam, akan memakan banyak energi. Maka format ulasan kali ini juga baru saya tentukan ketika tulisan ini ditulis, mengalir sajalah. Sebagai acuan, tahun kemarin saya sempat menulis singkat tentang JRL 2010, hari ketiga.

    Kami (saya dan seorang teman bernama Baloy) datang sebelum acara dimulai, gak mau rugi ey. Jika kamu melihat seseorang memakai Kaos Ghaust - Young Bastard, memanggul day pack yang terlihat penuh, itu saya. Isinya adalah perlengkapan untuk tiga hari, dan kami belum menentukan mau tidur dimana. Kami juga belum menentukan mau melihat penampilan siapa saja, yang jelas, Baloy memilih untuk mengutamakan band-band luar. Saya lebih memilih kalem, menantikan kejutan. Bolehlah melihat sebentar, agar bisa saya tulis di folder "Seen Live".

    Kesan pertama saya melihat tahun ini adalah, para SPG terlihat lebih banyak. Dan lebih, umm, hot.



    Akhirnya, saya menentukan akan menulis seperti apa. Saya akan menulis tentang penampilan band-band yang kami saksikan saja. Agar lebih gampang ditulis. Dan semoga, dibaca.


    Seringai


    Seringai tampil awal sekaligus membuka JRL tahun ini. Tidak ada pesan-pesan sebelum tampil, seperti tahun lalu mereka mewanti-wanti akan tampil bak di pesta pantai, dan akan ada Beer Tsunami. Tahun ini tidak. Arian13 pun tidak banyak berorasi seperti tahun lalu. Perbedaan lainnya, jika tahun lalu mereka tampil di TEBS Stage, kali ini di second stage, Simpati Stage. Dan album baru yang mereka rencanakan akan bisa dibawakan di JRL tahun ini ternyata belum selesai. Yang jelas, Seringai mungkin adalah satu-satunya band yang tampil di keseluruhan tiga kali JRL diadakan (Saya tidak menonton JRL pertama). Satu lagi, hari itu mereka membawakan "Lagu Ini Tidak Sependek Pikiranmu" yang hanya berdurasi sekitar lima detik ketika dibawakan live.

    Selanjutnya saya sempat mengecek Segarra Stage, untuk mengecek penampilan supergrup, Raksasa. Sayang, tampaknya hari itu saya belum berjodoh dengan mereka.


    PAS Band


    Tepat jam 18, PAS Band menghangatkan panggung utama, GG Inter Music Stage. Ini kali pertama saya menyaksikan mereka. Salah satu band idola masa SMA, yang mana lagu-lagunya sering kami bawakan ngejam. Mereka sering berkolaborasi malam itu, dengan vokalis 7 kurcaci, seorang vokalis lain, dan beberapa gitaris, termasuk Baron, dan menjadikan panggung ajang unjuk skill. Saya tidak terlalu memperhatikan beberapa musisi tamu, karena menurut saya tidak terlalu penting juga ya, kecuali di beberapa lagu yang ada part-part rap-nya. Paling menarik adalah Beng-Beng, gayanya yang unik seperti melotot aneh sambil tetap memainkan gitar adalah favorit saya. Dua lagu terakhir, Impresi dan Jengah sudah cukup untuk memanaskan para hadirin JRL, memanaskan panggung utama sebelum dua musisi internasional tampil, dan tentu saja untuk kita bisa men-twit, "Pecahh!!!"


    The Dirt Radicals



    Dalam kurun jam tujuh-an, ada tiga band yang akan memulai penampilannya. Berturut-turut Sheila On 7 di Simpati Stage, The Dirt Radicals di TEBS, dan Float di JUMP. Kami sendiri masih cukup dipusingkan dengan buklet yang penempatan jadwalnya tidak sebaik di web, atau bahkan buklet tahun lalu. Kami memulai dengan menyaksikan The Dirt Radicals, pop punk dari Australia. Menonton sebentar, melihat pop berbalut punk dengan semangat remaja, kaos-kaos Macbeth, saya segera menyingkir. Btw, aduh, sejak kapan saya menjadi elitis? Melanjutkan ke JUMP, untuk melihat Float. Musik mereka bagus, sayang saya tidak begitu mengerti. Akhirnya kami memilih untuk duduk-duduk di halaman utama menyaksikan So7, sambil menentukan strategi, dan menunggu seorang teman, yaitu Bewok, si abdi negeri, tiba di sini.


    We Are Scientists



    Sebelum menuju Alien Sick, kami sempat menyaksikan Forgotten barang 1-2 lagu. Menuju panggung terjauh JRL, Propaganda Stage untuk menemani Bewok yang notabene adalah anggota Pearl Jam Indonesia untuk menyaksikan Alien Sick. Begitu sampai ke lokasi, saya dikagetkan dua hal. Pertama, panggung Propaganda yang menghadap ke arah berlawanan (dari tahun lalu), dan yang kedua, ternyata di sampingnya laut! Saya memang cuma menyaksikan dari pinggir ketika GRIBS tampil disini tahun lalu. Menonton Alien Sick sebentar (lumayan, tapi saya lebih suka Besok Bubar), kami menuju panggung utama, We are Scientists akan tampil disana. Saya terbiasa mengunduh (ilegal) lagu-lagu dari band (ampuni saya dewa) yang akan tampil di JRL (Kita semua cinta Mediafire bukan?), dan cuma ingat sedikit nada-nada dari 1-2 lagu dari band ini. Oh, kenapa mesti banyak band yang dilabeli Indie Rock(CMIIW) di JRL tahun ini. Dan kami mendapatkan vokalis band ini sedang tersengal-sengal menyanyikan lagu-lagu berikutnya. Tapi menurut si Bewok, ini karena sound mikrofonnya. Iya gitu? Kurang puas, saya dan Baloy melihat lagi buklet. Ada siapa yang tampil sekarang? Ah, ada band ini. Ini band dari Depok, tapi saya bahkan belum pernah menyaksikannya. Saya hanya pernah melihat multiply vokalisnya, yang berisi foto-foto liburan, termasuk di Belitung. Singkat kata, kami segera meninggalkan Bewok, menuju BNI Dome Stage.


    Wonderbra



    Yup, ini band yang kami tunjuk di buklet tadi. Kami memasuki Dome, tepat ketika seorang personil mereka yang berperan sebagai setan mengaku bernama, kalo ga salah, "Asusilo Bambang Udoyono" yang disingkat, ASU. Ia mengucapkan selamat datang kepada penonton di Kuil Kapitalisme (JRL?) ini. Semenjak itu pula, penampilan mereka membuat saya tercengang. Mereka memadukan si ASU tadi sebagai narator di setiap jeda antara lagu, dengan lagu-lagu yang sangat garang dan terasa rada panas oleh power mbak vokalis, ditengah ademnya AC di dalam Dome ini. Sempat pula mengundang Adrian Adioetomo (yang seperti biasa, hanya berbicara melalui gitarnya) dan Anda (sangat santai, dengan kopi dan rokok), untuk ikut berpartisipasi. Oh ya, selain si ASU tadi, dua backing vokal mereka, Mbak semok dan Mbak dengan kostum sekolahan juga ikut mengambil alih panggung dengan menjadi setan dari wujud yang berbeda, dengan tetap si ASU tampil sebagai aktor pembantu. Si Mbak semok, yang dari awal saya heran kenapa dia tampil dengan pakaian 'begitu', tampil sebagai setan penggoda yang mendesah-desah membuat banyak penonton bersuit-suit. Teman saya si Baloy tadi, yang nonton di belakang, bahkan mungkin sudah merancap, jika tidak mengantisipasi Rajasinga membawakan "Kokang Batang" di hari ketiga nanti. Kalian yang tidak menonton mungkin mesti mencari unggahan video Opera Setan dari Wonderbra ini. Superb, gokil, epik, apalagi ya? Yah, bergizilah pokoknya. Sanggup membuat para penonton yang nyaris penuh (di saat bersamaan We are Scientists tampil), untuk tidak beranjak.



    Kelar dipuaskan oleh Wonderbra, kami memilih untuk makan malam. Bertepatan dengan tidak ada band yang ingin kami saksikan saat itu. Sistem pembayaran untuk F&B JRL tahun ini, sedikit ribet. Kita mesti membeli terlebih dulu kupon dengan pecahan 5000 dan 10000 untuk kemudian membayar ke tempat kita membeli makanan atau minuman. Kamipun memilih menu paling murah yang tersedia (dan terlihat) yaitu Nasi Goreng seharga Rp15.000, yang kami prediksikan akan menjadi menu utama makan malam kami untuk tiga hari.


    Blood Red Shoes



    Sehabis nasi goreng, pilihan utama tertuju kepada Blood Red Shoes. Saya katakan sebelumnya, saya tidak ngerti Indie Rock (CMIIW [lagi]), tapi dengan vokalis seorang cewek super keren saya segera mengerti lagu-lagu mereka, halah. Nggak lah ya, saya emang dengerin cukup intens kok album-albumnya, dan itu bagus. Kami sudah tentu tidak mendapat front row. Tapi saya bukan tipe penonton yang mengejar baris-depan, kecuali saya penggemar berat. Langsung saja, kami segera terpaku menatap cewek-cowok Brit ini di panggung. Oke, Steven Ansell bermain penuh gairah. Dan saya menatap Laura dengan penuh gairah, Kaos Led Zep kegedean yang sangat cocok di tubuhnya, gerak-geriknya, dan sepasang paha yang mungkin saja termulus dari semua paha di JRL ini, anjeeng! Huss, saya tidak semesum itu lah ya, saya inget kok lagu-lagunya. Dan kami segera bertekad untuk menonton mereka lagi, kapanpun itu! Ah, ternyata besok mereka main lagi, kebetulan sekali.



    Saya lupa apakah tepat Blood Red Shoes masih tampil atau tidak, ketika kami mampir sebentar melihat Tengkorak. Kami memutuskan menyaksikan sebentar, ketika mendengar orasi anti-zionis khas Ombat, ehem.

    Jeda setengah jam, saya lupa apa saja yang kami lakukan. Yang jelas 30 seconds to Mars yang mestinya bermain saat itu juga harus diundur hingga nyaris jam 1 pagi. Mungkin saat itu kami mengomentari begitu banyaknya remaja yang tampak masih dalam usia sekolah berseliweran, sambil terus berkomentar seperti, "Pulang Dek, udah malem", "Besok libur ya, dek?" Sambil mengagumi entah dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli tiket.


    Besok Bubar


    Kami hanya menyaksikan sebentar Loudness, hebat sekali ini paman-paman dari Jepang. Masih kuat. Melihat sebentar The Changcuters untuk melihat jumlah penonton, dan mendapati bahwa band ini ternyata banyak juga yang menyaksikan. Lalu kami beranjak ke Propaganda Stage, dimana Besok Bubar tampil. Meski sedikit yang menonton, mereka tetap tampil bagus. Menonton sebentar (lagi-lagi), kami segera menuju Dome untuk menyaksikan Naif. Band senior yang aksi panggungnya selalu memukau, dan saya belum pernah melihat mereka tampil. Kami beruntung masih mendapatkan sekitar 4-5 lagu terakhir. Naif tampil dengan penonton yang memenuhi Dome, meskipun sebentar lagi 30stm tampil. Mereka memang menyenangkan untuk dilihat. Para penonton yang tampak senang sekali ber-sing-along, atau sekedar tertawa-tawa mendengarkan ocehan David. Puncaknya, David membuka baju dan memamerkan tubuh kekar lagi six-packnya yang membuat penonton semakin histeris.

    Saya lupa itu jam berapa, seingat saya nyaris pukul 1 pagi. Kami yang baru keluar dari dome hanya bisa terrcengang melihat penonton yang sudah memenuhi aula utama Pantai Karnaval, menyisakan sedikit lahan di bagian depan samping untuk kami ikutan berjubel. Saya katakan ini sebelum mengulas tentang penampilan 30stm. Saya bukan penggemar mereka. Saya hanya ingat Jared Leto pernah dipukul Edward Norton hingga babak belur di Fight Club, dan gagal menneruskan abangnya, Nicolas Cage, menjadi Lord of War. Saya tidak tahu lagu-lagu band-nya. Saya baru mendengarkannya sebelum JRL. Jika JRL tidak menampilkan mereka, saya mungkin tidak akan pernah mencoba untuk menyetel lagu-lagunya. Maka, kamu tahu tulisan saya sehabis ini muncul dari orang yang seperti apa. x)


    30 Seconds to Mars



    Para penggemar 30stm, remaja dan tidak remaja, sudah mengantisipasi kedatangan nabi mereka, Jared Leto, dengan terus-terusan berteriak antusias. Akhirnya ketika dia berlari keluar panggung, teriakan semakin keras membahana menyambutnya yang tampil dengan rambut klimis dan pakaian seperti.. seperti apa? Seperti pemimpin marching band, mungkin. Lagu-lagu mereka yang megah dan anthemic segera dilancarkan. Kesan pertama saya adalah, suara Mas Jared ini, tidak seperti di rekamannya. Suaranya kurang oke. Tapi kekurangannya tersebut, ditutupi dengan aksi panggung bak frontman dan entertainer sejati. Aksi panggung oke, gesture yang mengapa-dia-pantas-dipuja, interaksi intens ke penonton, susah untuk tidak memuji orang ini. Tidak hanya itu, gombalan mautnya seperti "This is the best crowd i've ever seen" (yang kita tidak tahu, apakah dia ucapkan juga di Malaysia keesokan harinya), atau membawa dan mengalungkan Bendera Indonesia ke lehernya sambil bernyanyi, cukup untuk membuat beberapa ABG di barisan depan pingsan dan dirawat.



    Saya sendiri, meski menganggap encore yang dihadirkan terlalu panjang, termasuk di antaranya mempersilakan puluhan fans naik ke panggung, saat itu merasakan gelombang perasaan senang yang berbeda. Itu kali pertama saya merasakan gempa lokal, yang diakibatkan saking banyaknya penonton yang melompat-lompat. Tapi yang lebih penting, hari itu saya bahagia melihat begitu banyak orang yang berbahagia. Rasa haru yang muncul akibat energi positif yang begitu besar, terasa begitu nyata. Selain itu, mungkin ini takdir. Tertinggalnya personil mereka di bandara (katanya sih di San Fransisco), hingga menyisakan mereka tampil sendirian (tidak tahu juga beneran di-set atau nggak, ya), balon-balon raksasa, dan hujan confetti dalam jumlah besar yang ditembakkan dari panggung. Saya yang tidak tahu sama sekali potongan lirik manapun di lagu-lagu mereka, selain "This is Waaaar", pun ikut tersenyum. Mereka menutup JRL hari pertama, dengan elegan.



    Top 5
    Wonderbra
    PAS band
    30stm
    Blood Red Shoes
    Naif




    30 seconds to be aoxl

    Kredit Foto :
    -Ponsel Baloy
    -RSI
    -Fanpage Facebook Masing-masing Band
    CTOU

    Link Blog saya : http://benjimozart.multiply.com/journal/item/38
    Untuk mengecek sumber-sumber foto tersebut, silakan meng-klik pada foto, pada tulisan di-blog.
    Cheers, Segan!
  • Koil Killer Concert - Live at Sabuga 240211

    1. Mär. 2011, 17:13

    Saya baru bisa menulis tentang konser ini, dua hari setelah hari H, atau satu hari setelah saya balik dari Bandung. Mumpung masih terasa euforia dari konser tersebut. #KonsertunggalKoil adalah hashtag yang marak digunakan untuk menamai konser ini di Twitter. Meski Midiahn sendiri sempat menunjukkan ketidaksukaannya kepada nama itu. Di Baliho atau flyer yang saya lihat sendiri, nama konser ini adalah Koil Killer Concert, dengan artwork-artwork 'Hanya Tinggal Kita Berdua'.

    Sedari awal saya sudah membulatkan untuk berkunjung ke Bandung, demi konser ini. Diperkuat dengan tiket gratis dari Seperturan (Terima Kasih Kang Jaka), menang tebak-tebakan Milan vs Spurs yang berujung tiket juga dari God.Inc (Terima Kasih God.Inc dan Peter Crouch), ditambah dengan diskon menyehatkan dari Omuniuum akibat menebak lokasi billboard konser Koil (Terima Kasih Omu dan teman-teman saya yang keliling Bandung). Apa lagi? Kebetulan sekali Rabu, Kamis, dan Jumat saya belum ada jadwal kuliah. Bagaimana bisa saya tidak menjadi seorang Yes Man? Yeahh!

    Singkat kata, dengan dua tiket gratis di tangan dan datang terlalu sore di Sabuga, kami masih kekurangan tiket untuk dua teman saya yang lain. "Ak, tiket ak, 45.000 aja." ujar seorang calo ketika kami sampai. "No, thanks." balas kami dengan ketenangan tinggi, dan segera ikut antrean tiket. Antri beberapa menit, tibalah pengumuman bahwa tiket habis. Seketika harga tiket di calo menjadi seragam, Rp.60.000. Dan kami akhirnya berdamai dengan calo, agar semua bisa, makan tidak makan, bersama.



    Segera masuk venue sekitar jam 18 lewat, dan menemukan banyak hal menarik didalam. Kita tidak langsung bertemu panggung, tapi disuguhkan terlebih dulu dengan banyak spot untuk berfoto, juga stand Omuniuum & Godstore untuk kita bisa belanja. Atau seorang violis cewek yang menjadi sasaran berfoto saya yang pertama. Puas berfoto-foto, saya bersama seorang teman (sebut saja dia Baloy) segera masuk ke depan stage, sementara dua teman saya yang lain belum berminat masuk.

    Oh ya, sebelum masuk ke dalam stage, tidak ada pemeriksaan yang ketat dari para security. Mereka hanya meminta lighter dilarang dibawa masuk, dan saya tidak mengacuhkannya. Dan mungkin bukan saya saja, karena setelah acara selesai terlihat banyak yang segera menyalakan rokok. Ada juga obrolan menarik dari seorang polisi (saya lupa memakai HT atau HP), "Nggak, nggak lebay, metal ini. Pada pake item-item."Kenyataannya memang begitu, kebanyakan yang datang adalah die-hard fans Koil dengan atribut lengkap hingga sepatu NewRock. Dan kami segera menangkap bahwa, polisi ini biasanya menjaga konser-konser dengan para penonton yang lebay sebelumnya.



    Kami bergegas menuju ke depan stage agar mengambil shaf yang cukup depan. Panggung sudah dihiasi tiga dekorasi mirip Menorah Israel, dan dua patung buatan kak vokalis mengawal di belakang. Foto-foto sebentar, sekitar jam 7 lewat Anto Arief (antruefunk) yang mengaku datang dari sanggar tari 70s Orgasm Club membuka acara. Saya baru kali ini melihat orang ini, dewa gitarnya Sir Dandy. Begitu mau mengambil kamera digital dari Baloy, 'zheeeenggg (backsound a la sinetron)', kamera tidak ada di Baloy. Dia pikir ada di saya, saya pikir ada di dia. Sah, kamera ini raib... Dan pikiran saya segera melayang ke tabungan di bank, maklum kamera pinjaman. Hufft, eh jangan hufft, terlalu overrated, 'fiuhhh' aja. Jadilah sepanjang penampilan antruefunk kami membongkar-bongkar tas, kantong atau menyelidiki sekeliling. Sambil sesekali melihat ke panggung untuk menyaksikan permainan funky atau sekedar mendengarkan orasi dari Antruefunk untuk menghibur diri. Padahal crowd sekitar kami belum padat. Kami berdua Down.

    Selanjutnya adalah bagian galau, aduhh gimana ini foto saya dengan violis tadi. Eh bukan, gimana ini beli kamera baru atau semoga ada yang baik hati mengembalikan. Bla, bla, bla.

    Koil


    Mereka masuk ke panggung diiringi teriakan, 'kyaa, kyaaa!' Memainkan intro baru (terakhir saya nonton di JRL sih bukan yang ini) sebelum Mastah Ov Seremoni, Midiahn, muncul ditingkahi teriakan 'kyaa, kyaa' yang lebih agresif. Midiahn tampil dengan jubah yang, brengsek, keren banget. Ditambah dengan kupluk beserta wig merah yang membuat dia terlihat sangat unyu. Oke, ini dia momen untuk menendang jauh-jauh kegalauan akibat kehilangan kamera, sebelum rasa ini balik lagi ketika Koil mengakhiri lagu terakhir. "Nyanyikan Lagu Perang", lagu favorit saya segara dibawakan dengan garang. Berturut-turut "Sistem Kepemilikan" dan "Aku Lupa Aku Luka." Ini saja sudah tidak sesuai dengan songlist yang sebelumnya muncul di twitter @KoilKarat atau di facebook mereka, tapi ya bodo amat lah. Dilanjutkan dengan 'Rasa Takut Adalah Seni' yang membuat saya orgasme pertama. Kalau saya sampai nge-twit sekedar judul lagu, berarti saya memang orgasme.

    Dan seperti biasa, kita akan mendengarkan joke-joke Otong Koil (Midiahn .red) yang tidak ada matinya, seperti mengucapkan kata-kata 'you know me so well' dengan aksen menggelikan. Orasi-orasi bijak seperti "jangan memakai narkoba kalau belum super-kaya" atau "band yang banting-banting gitar itu cupu." Meski tidak membawakan kosakata-kosakata aneh seperti yang biasa ada di twitternya, tapi 'u ting e ek ...." -series setidaknya keluar satu kali malam itu. Ketika dia mengatakan akan membawakan 46 lagu. Dia juga mengatakan moshing sebagai suatu hal yang 'jadul', dan memperkenalkan trend terbaru. Yaitu menonton konser dengan berdiri tegap a la ABRI, dan hormat ketika lagu usai.

    Berikutnya lagu-lagu yang cukup sering dibawakan, "Ajaran Moral Sesaat", "Dosa Ini Tak Akan Berhenti", "Aku Rindu", "Semoga Kau Sembuh part.2" dan lagu ini pun tidak jadi dibawakan sehabis yang part.1.




    Kelar dua sesi ini, perlengkapan perang Koil digantikan dengan set akustik. Bagian ini tentu salah satu yang ditunggu-tunggu yes. Dimana Ivan dan Diva (additional player) juga ikut menambah kekuatan Koil disini. Tadinya saya mengharapkan "Kesepian Ini Abadi" dibawakan full version karena kemegahannya, tapi versi akustik juga bagus lah, suara vokalisnya merdu ey. Lalu "Lagu Hujan" dengan confetti perak yang dijatuhkan dari atap, makjang, intim sekali. Kemudian, "Murka". Sudah ada bocoran beberapa hari sebelumnya di YouTube, bagaimana lagu ini akan dibawakan. Saya tidak terlalu peduli saat itu. Dan bocoran itu benar pemirsa, Murka dibawakan dengan jazzy, swing-swingan gitu lah. Anjeeengg! Di lagu ini pula saya untuk pertama kalinya tidak full-karaoke, karena tidak sehafal lagu-lagu lainnya. "Akuuu, hiu bersimbah darah" atau "Akuuu... Murka." otomatis menjadi potongan lirik paling unyu di konser ini.




    Setelah itu saya tidak ingat detilnya, pokoknya ada bagi-bagi sepatu New Rock untuk dua orang yang beruntung. Yang tidak beruntung, namanya dipanggil, tapi dia sedang tidak memakai kaos God.Inc. Pada bagian ini Leon yang mengambil bagian, sementara Midiahn berganti kostum ke baju lengan buntung hitam andalannya yang klasik.

    Dan dari songlist yang saya lihat, lagu "Matahari" tidak dibawakan. Selanjutnya, "Hanya Tinggal Kita Berdua" dimana Donny mulai ambil bagian lebih untuk bernyanyi. "Kita Dapat Diselamatkan", dimana banyak penonton ikut meneriakkan orasi "Sebab di bawah kolong langit ini..." Berikutnya adalah "Semoga Kau Sembuh Part.1", yang menurut kak vokalis sangat susah dibawakan, tapi ini terbayar, saya ngecrott lagi. Dan itu adalah lagu-Koil-paling-syahdu-peringkat-1, dimana saya terbayang dengan hal-hal terkait kesembuhan seseorang dan lainnya ketika ikut bernyanyi. Ngomong apa dah ini.

    "Suaramu Merdu" menyelingi lagu syahdu tadi dengan lagu berikutnya, "Dan Cinta Kita Terlupakan". Midiahn turun panggung sebelum lagu ini dimulai, untuk ikutan nonton. Yang saya dengar sih dia menyebutkan hal semacam "pengen nonton band sendiri" ketika ikut berdiri di bawah. Segera perhatian penonton terpecah, antara melihat lagu yang baru kali ini dibawakan atau melihat ekspresi Midiahn saat menonton Koil. Saya sendiri hanya menoleh ke arah dia satu-dua kali, kapan lagi ey nonton Koil tanpa sang frontman? Donny dan Adam mengambil kendali penuh untuk menyanyikan lagu yang, ehem, juara-umum-lagu-Koil paling-syahdu ini. Saya sadar saya ikut bernyanyi dengan mata berbinar di lagu ini.



    Oh ya, saya lupa di sesi keberapa ketika Midiahn memperkenalkan para musisi pendukung. Seperti keyboardist tadi, dan dua backing vokal yang sangat 'Suaramu Merdu' sekali. Salah satunya saya lupa. Satunya lagi Risa Saraswati, yang hari itu tepat berulang tahun ke-29, dan yang entah kenapa akhir-akhir ini membuat saya kesengsem. Sempat 'dikerjai' oleh Midiahn dengan memimpin penonton dalam koor ucapan selamat ultah yang cukup geje dan disuruh bernyanyi. Risa pun menyanyikan sebait lagu 'Bilur' setelah sebelumnya menyapa "Selamat Malam Jumat...".
    Setelah itu Midiahn pun sempat mengaku 'baru' berumur 29 juga. Atau mengaku menciptakan sebuah lagu ketika dia baru lulus SMA, empat tahun yang lalu. Hahaha.

    Kemudian adalah "Mendekati Surga" lagu yang masuk dari 150 lagu Indonesia terbaik versi Rolling Stone. Sebelum Midiahn menyampaikan bahwa sehabis ini adalah lagu terakhir. Donny dan Adam membagi-bagikan pick, yang bertuliskan nama serta tanggal acara ini. Dan si brengsek Baloy (teman saya yang tadi, jika kamu lupa) dengan bangga menunjukkan pick VladVamp yang didapatnya. Sedangkan Leon melempar-lemparkan stik drum dengan jumlah cukup banyak. Menurut Midiahn, tidak akan ada lagi 'we want more', dan mereka akan me-we want more kan masyarakat, dan memasyaratkan we want more.



    Maka, aksi dahsyat malam itu sudah pasti ditutup "Kenyataan Dalam Dunia Fantasi" dimana Midiahn menyempatkan juga untuk bergoyang gergaji. Ok ok, ini peluang terakhir malam itu, maka saya benyanyi sekuat tenaga, ber-headbang ria, dan mengacung-acungkan tinju sebelum semuanya berakhir. Saya bertepuk tangan lebih lama sambil menonton para personil membagi-bagikan (lagi) banyak pick dan stik.

    Pada akhirnya, Konser Koil malam ini sungguh juara! Selain karena saya bisa karaokean sepanjang konser, tentu masih ada banyak faktor lain seperti lighting, sound, kemasan konser, merchandise konser, dan banyak lagi. Semoga dengan lancarnya acara ini juga bisa memicu banyak band jagoan lain untuk menyelenggarakan konser tunggal yang bagus dan bergizi pula. Dan saya sendiri masih berharap nanti bisa menyaksikan "Ini Semua Hanyalah Fashion", "Burung Hantu", "Pudar", dan "Bantulah Kami Melihat" dibawakan. Terima Kasih untuk semua pihak yang telah merealisasikan konser yang tidak akan terlupakan ini.

    Vive Le Koil!